Prof Dr Subroto


nama : Prof Dr SubrotoTgl lahir / Tempat : Rabu, 19 September 1923 / Kampung Sewu, Solo
Jenis Kelamin : PriaPekerjaan : Politisi
Usia : 95 TahunZodiak : Virgo

Biodata :

Prof Dr Subroto (Foto:Int)

Lahir dari pasangan Martosuwignyo dan Sindurejo. Saat masih kecil, anak ketujuh dari delapan bersaudara ini dipanggil Ndoro Menggung oleh orangtua dan saudara-saudaranya.

 

Konon, pemilihan nama Subroto juga memiliki makna. Bahwa kelak diharapkan ia menjadi seseorang yang mau melakukan pengabdian demi kemaslahatan banyak orang. Meski anak priyai, ia tak memperoleh hak istimewa. Termasuk saat mengenyam pendidikan di HIS maupun pendidikan luar sekolah seperti Gerakan Kepanduan.

 

Tamat dari HIS, ia meneruskan studi di MULO dan Sekolah Menengah Tinggi. Kondisi negara saat itu memaksa remaja Subroto mendaftarkan diri masuk PETA. Sayangnya, ia ditolak karena terlalu kurus. Pada 1 November 1945, diterima sebagai kadet (taruna) Militer Academie di Yogya. Ada kebanggaan karena dari 197 angkatan pertama MA Yogya, Subroto lulus dengan predikat Terbaik II dan menyandang pangkat Letnan II.

 

Sebagai tentara Subroto ikut bertempur melawan penjajah hingga tahun 1950 bersama rekan-rekannya. Antara lain Wiyogo Atmodarminto, Soesilo Soedarman, Himawan Sutanto, Abu Sadikin, Yogi Supardi, dan Sayidiman Suryohadiprodjo.

 

Selepas medan pertempuran, Subroto kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) hingga meraih gelar Sarjana Muda tahun 1952. Kesempatan terbuka lebar. Subroto melanjutkan kuliah di Mc-Gill University, Montreal, Canada. Pada 1958 meraih gelar doktor ekonomi di UI. Gelar guru besar segera diperoleh.

 

Berbagai kepercayaan terus diberikan. Pak Broto pernah menjabat Direktur Jenderal Penelitian dan Pengembangan Departemen Perdagangan RI. Tahun 1971-1973 menjabat Menteri Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Koperasi Kabinet Pembangunan II. Tahun 1978 menjadi Menteri Pertambangan dan Energi. Program Listrik Masuk Desa adalah program yang ia rintis kala itu.

 

Pada 1988, ia mendapat kepercayaan sebagai Sekjen OPEC yang berkedudukan di Wina, Austria. Dari negeri itu, ia memikirkan nasib anak bangsa yang masih terbelit kebodohan, keterbelakangan, kemiskinan, dan keterpurukan.

 

“Dulu, yang dicita-citakan ayah dan ibu saya saat saya besar adalah supaya saya dapat berdharma dengan berbuat sesuatu bagi orang lain. Setelah kita sudah berbuat sesuatu bagi orang lain maka hidup kita baru ada artinya. Itu yang disampaikan ayah dan ibu saya,” katanya.

 

Mungkin karena itulah melalui yayasan yang dirintis, Prof Subroto bertekad mengabdi bagi anak-anak Indonesia yang dimulai dari desa. Ia beralasan, jika mau membangun negara maka desa adalah pilihan tepat memulai membangun negara.

 

“Kita harus bisa menggerakkan orang-orang di kota yang sedikit mempunyai kelebihan untuk menyisikan buku-buku yang dulu tidak dipakai lagi. Kita kumpulkan untuk disumbangkan buat anak-anak di desa,” katanya.

 

Di tengah rutinitas dan pengabdian bagi anak-anak di bidang pendidikan, Prof Subroto tak punya kiat khusus agar tetap sehat dan kuat. “Resepnya bersyukur kepada Allah SWT atas apa yang diberikan. Dalam hati dan pikiran saya ada S-5. Yaitu senyum, salam, sapa, sopan, santum. Semua itu membuat saya selalu semangat,” katanya.

 

 

Sumber : Diolah dari berbagai sumber


Birthday Lainnya
Lee Iacocca
Sarah, Duchess of York
Mario Puzo
David Zucker
Prabowo Subianto